Beranda / Pemerintahan / Selama Ramadan, Satpol PP Pamekasan Biarkan PKL Berkuasa di Pinggir Jalan

Selama Ramadan, Satpol PP Pamekasan Biarkan PKL Berkuasa di Pinggir Jalan

PAMEKASAN, SiaranMadura.com – Maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sepanjang pinggir jalan di sejumlah titik perkotaan Pamekasan selama bulan Ramadan menyebabkan kemacetan, terutama pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

Kepala Satpol PP Pamekasan, Yusuf, saat dikonfirmasi oleh tim SiaranMadura.com pada Kamis (5/3/2026), menyampaikan bahwa fenomena tersebut kerap terjadi setiap memasuki bulan Ramadan.

“Bukan hanya di baratnya Simpang Empat Gadin, di Sadangdang dan Jalan Jokotole juga sama. Kalau memasuki bulan puasa banyak yang berjualan di pinggir jalan. Istilah kami itu pedagang dadakan, karena pada hari-hari biasa mereka tidak ada,” ujar Yusuf.

Ia menjelaskan, apabila kondisi tersebut terjadi di luar bulan Ramadan, pihak Satpol PP biasanya langsung melakukan penertiban.

“Kalau bukan bulan puasa sudah kami tertibkan. Sebenarnya sekarang juga tidak ada pengecualian,” katanya.

Yusuf menambahkan, apabila setelah bulan Ramadan para pedagang tersebut masih berjualan di lokasi seperti Jalan Kabupaten, tepatnya di barat Simpang Empat Gadin, maka pihaknya akan melakukan penertiban.

“Kalau nanti setelah bulan puasa di Jalan Kabupaten baratnya Gadin masih berjualan, pasti kami tertibkan,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa penertiban tidak bisa dilakukan begitu saja tanpa memberikan solusi kepada para pedagang. Hal itu mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2021tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima.

“Dalam perda itu disebutkan penataan dan pemberdayaan, bukan hanya penertiban. Artinya ketika kami menindak atau menertibkan, harus sekaligus memberikan solusi,” jelas Yusuf.

Menurutnya, langkah penertiban yang dilakukan Satpol PP harus dibarengi dengan solusi yang paling kecil risikonya bagi para pedagang.

“Kami menertibkan PKL sekaligus memberi solusi, dan solusi itu harus yang paling sedikit risikonya,” tambahnya.

Ketika disinggung mengenai adanya anggapan pembiaran terhadap PKL yang dinilai mengganggu keindahan dan keasrian kota, yang dinilai bertentangan dengan semangat pembangunan kota yang bersih dan tertib, Yusuf memilih tidak memberikan komentar lebih jauh.

Ia menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan kebutuhan serta ketersediaan anggaran. Meskipun lokasi untuk PKL sebenarnya sudah tersedia, namun tidak serta-merta langsung ditempati oleh para pedagang.

“Kalau hanya sekadar menertibkan, kami siap, bahkan setiap hari,” pungkasnya.

Penulis : Jun

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *