Pamekasan – Siaranmdura – Tradisi penjemputan jamaah umroh dengan iring-iringan sepeda motor dan mobil masih terus berlangsung di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Pamekasan, Madura. Momen kepulangan tamu Allah dari Tanah Suci ini kerap disambut meriah oleh keluarga, kerabat, hingga warga sekitar dengan konvoi kendaraan yang memadati jalan desa.
Fenomena tersebut tidak hanya menjadi bentuk kebahagiaan dan rasa syukur atas kembalinya jamaah dalam keadaan sehat, tetapi juga telah berkembang menjadi tradisi sosial yang turun-temurun di tengah masyarakat.
Mohammad Azki pejemput jemaah umroh, mengaku sengaja mengajak puluhan tetangga untuk menjemput kerabatnya yang baru pulang dari umroh.
“Ini bentuk kebahagiaan kami. Selain itu, juga sebagai penghormatan karena beliau baru pulang dari Tanah Suci,” ujarnya, Juma’at (27/03/26).
Dalam praktiknya, rombongan penjemput biasanya sudah berkumpul sejak jauh sebelum waktu kedatangan. Mereka kemudian bergerak bersama menuju titik penjemputan, seperti perbatasan kota atau perbatasan desa, lalu mengiringi jamaah hingga ke rumah dengan konvoi panjang kendaraan sambil membunyikan klakson.
Namun di balik kemeriahan tersebut, sejumlah pihak mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dan keselamatan di jalan.
Ustadz Rohim tokoh masyarakat setempat kerap mengimbau masyarakat agar tidak berlebihan dalam melakukan konvoi, terutama yang dapat mengganggu arus lalu lintas atau membahayakan pengguna jalan lain.
Ia juga mulai mengajak warga untuk mengedepankan kesederhanaan dalam menyambut jamaah umroh.
Menurutnya, esensi utama dari ibadah umroh adalah peningkatan spiritual, bukan kemeriahan yang berlebihan.
Meski demikian, hingga kini tradisi konvoi penjemputan jamaah umroh tetap menjadi bagian dari budaya lokal yang sulit dipisahkan. Bagi sebagian masyarakat, momen tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan simbol kebersamaan, rasa syukur, dan kebanggaan atas perjalanan ibadah yang telah ditunaikan.
Penulis : Fiki











