Pamekasan – SiaranMadura – Dalam sebuah langkah harmonis, Keraton Surakarta Hadiningrat dan Pamekasan mempererat tali silaturahmi melalui agenda Muhibbah Budaya. Sebuah perayaan akrab yang menegaskan kembali hubungan erat antara dua entitas budaya, memadukan tradisi dan semangat kebersamaan. Senin (16/02/26).
Pertemuan itu menegaskan bahwa kedua wilayah masih memiliki pertalian darah dalam sejarah panjang kerajaan di Jawa dan Madura.
Kegiatan yang dimulai sejak pagi tersebut berlangsung di Pendopo Budaya Pamekasan dan disambut Wakil Bupati Pamekasan Sukriyanto bersama jajaran Forkopimda serta keluarga Keraton Pamekasan.
Dalam sambutannya, Sukriyanto menyampaikan bahwa secara historis Keraton Surakarta dan Pamekasan merupakan satu keluarga besar. Ia merujuk pada fakta sejarah yang menyebut permaisuri Pakubuwono(PB) IV, Bandoro Raden Ayu, merupakan menantu Bupati Pamekasan R Alsari atau disebut Adipati Tjokro Adiningrat I.
“Bisa dikatakan keluarga Keraton Surakarta masih berdarah Madura, karena istri Raden Ajeng Handoyo PB IV melahirkan raja-raja pada saat itu,” ujarnya.
Menurutnya, kunjungan Dewan Adat Keraton Surakarta ke Pamekasan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan simbol harmonisasi budaya dan penyambung kembali hubungan genealogis yang telah terjalin sejak ratusan tahun lalu.
Gusti Kanjeng Ratu Wandansari, lebih akrab dengan nama panggilan Gusti Moeng, sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat turut menegaskan hal tersebut. Ia menyebut kunjungan itu sekaligus menjadi momentum nyekar ke makam leluhur mereka di Pamekasan.
“Kami berkesempatan nyekar terhadap makam eyang kami yang merupakan mertua dari PB IV,” katanya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan penelusuran sejarah dan silsilah yang dipelajarinya, terdapat kisah Adipati Anom atau PB IV yang jatuh cinta kepada putri Raden Alsari. Jejak itu menjadi salah satu simpul penting hubungan Surakarta dan Madura.
”Untuk mencari silsilah tersebut saya sudah mencari ke Bangkalan dan Sumenep sejak 10 tahun lalu. Ternyata ketemunya disini,” ucapnya.
Baginya, menjaga hubungan kekerabatan tersebut juga berarti merawat budaya sebagai jati diri bangsa.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan kirab budaya menuju makam Raden Alsari di Kolpajung, Pamekasan. Rombongan tiba langsung memanjatkan doa di kompleks makam Para Raja terdahulu Pamekasan.
Gusti Moeng menegaskan, Raden Alsari atau R.T.A. Tjokro Adiningrat I, dikenal sebagai Ghung Seppo, Bupati Pamekasan, sekaligus mertua Susuhunan Pakubuwono IV Surakarta.
”Dari garis inilah, hubungan darah antara Surakarta dan Pamekasan diharapkan terus tersambung,” pungkasnya.








