Pamekasan – SiaranMadura – Bulan suci Ramadan tidak menyurutkan semangat para petani untuk tetap bekerja di sawah. Seperti yang terlihat di sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Pamekasan, para petani tetap melakukan aktivitas panen padi atau yang biasa disebut ngarit padi, meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.
Sejak pagi hari, para petani sudah turun ke sawah membawa sabit untuk memanen padi yang telah menguning. Proses ngarit padi biasanya dilakukan secara berkelompok agar pekerjaan panen bisa selesai lebih cepat, mereka bekerja di bawah terik matahari, memotong batang padi, kemudian dikumpulkan di satu titik untuk selanjutnya dilakukan proses perontokan .
Budi Harjo, Salah seorang petani muda setempat mengatakan, aktivitas panen tetap harus dilakukan karena padi yang sudah matang tidak bisa dibiarkan terlalu lama di sawah. Jika terlambat dipanen, dikhawatirkan kualitas gabah menurun atau bahkan rusak akibat hujan dan hama. Rabu (11/03/26).
“Walaupun puasa, panen tetap harus jalan. Kalau padi sudah waktunya dipanen ya harus dipanen, karena kalau dibiarkan terlalu lama bisa rusak,” ujarnya saat ditemui di lokasi sawah.
Menurutnya, bekerja saat berpuasa memang terasa lebih berat, terutama karena harus menahan haus dan lapar. Namun hal tersebut sudah menjadi hal biasa bagi para petani yang setiap hari bergelut dengan pekerjaan di lahan pertanian.
Ia menambahkan, panen padi biasanya dilakukan secara gotong royong agar pekerjaan bisa selesai lebih cepat. Selain itu, kebersamaan saat panen juga menjadi tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat pedesaan.
“Biasanya kami saling membantu. Hari ini panen di sawah saya, nanti gantian membantu panen di sawah tetangga. Jadi lebih ringan,” tambahnya.
Meski harus bekerja keras di tengah bulan Ramadan, para petani mengaku tetap bersyukur karena musim panen tahun ini cukup baik. Hasil padi yang melimpah diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Semangat para petani ini menjadi gambaran bahwa ibadah puasa tidak menghalangi masyarakat untuk tetap produktif, di tengah keterbatasan dan kondisi yang menuntut tenaga ekstra, mereka tetap bekerja demi menjaga ketahanan pangan dan keberlangsungan hidup keluarga.” pungkasnya.
Penulis : Fiki










