Pamekasan – SiaranMadura – Kegiatan tadarus Al-Qur’an setelah pelaksanaan salat tarawih menjadi salah satu tradisi ibadah yang rutin dilakukan umat Muslim selama bulan suci Ramadan. Tradisi tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tetapi juga menjadi upaya memakmurkan masjid dengan berbagai aktivitas keagamaan.
Para jamaah yang terdiri dari orang tua, remaja hingga anak-anak biasanya berkumpul kembali setelah salat tarawih untuk membaca Al-Qur’an secara bergiliran. Kegiatan ini dilakukan dengan penuh khidmat dan menjadi bagian dari semangat masyarakat dalam menghidupkan malam-malam Ramadan.
Ustadz Abd Bari, Takmir masjid Al-Muttaqin mengatakan, tadarus Al-Qur’an merupakan kegiatan yang sudah berlangsung secara turun-temurun setiap Ramadan. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memperbanyak bacaan Al-Qur’an, tetapi juga mempererat silaturahmi antarjamaah.
“Setelah tarawih biasanya jamaah tidak langsung pulang. Mereka melanjutkan dengan tadarus bersama. Ada yang membaca, ada juga yang menyimak dan memperbaiki bacaan,” ujarnya, Rabu (11/03/26).

Menurutnya, kegiatan tadarus biasanya dilakukan hingga larut malam, bahkan di beberapa masjid ditargetkan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali selama bulan Ramadan.
Selain meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, tadarus juga menjadi sarana belajar bagi masyarakat yang ingin memperbaiki tajwid dan kelancaran membaca kitab suci. Tidak jarang para tokoh agama atau ustaz setempat turut membimbing jalannya tadarus agar bacaan para jamaah semakin baik.
Sementara itu, Wadud Maldadi, selaku jamaah mengaku senang mengikuti kegiatan tadarus karena suasana Ramadan terasa lebih hidup. Masjid yang biasanya sepi pada malam hari menjadi ramai dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Ramadan terasa lebih berkah ketika masjid ramai dengan tadarus. Selain beribadah, kita juga bisa berkumpul dan belajar bersama,” kata Wadud.
“Dengan adanya tradisi tadarus Al-Qur’an setelah salat tarawih, diharapkan masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah salat semata, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan yang mampu memperkuat nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat selama bulan suci Ramadan,” pungkasnya.
Penulis : Fiki










