PAMEKASAN – Siaranmadura – Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mulai menunjukkan tren penurunan pada awal Juli 2026. Setelah sempat menyentuh angka Rp30.000 per kilogram dalam beberapa pekan terakhir, kini harga komoditas tersebut turun menjadi sekitar Rp22.000 per kilogram.
Penurunan harga ini disambut baik oleh masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro yang setiap hari bergantung pada telur sebagai bahan baku maupun kebutuhan konsumsi keluarga.
Salah seorang warga Desa Teja Barat, Maryam, mengaku merasakan langsung dampak positif turunnya harga telur saat berbelanja di pasar pada Senin (06/07/26).
Menurutnya, harga telur yang sebelumnya berada di kisaran Rp29.000 hingga Rp30.000 per kilogram kini jauh lebih terjangkau.
“Tadi pagi saya ke pasar, harga telur sudah Rp22.000 per kilo. Sebelumnya saya beli sekitar Rp29.000 sampai Rp30.000 per kilogram,” ujarnya.
Ia mengaku bersyukur karena telur merupakan salah satu kebutuhan pangan yang hampir setiap hari dikonsumsi keluarganya. Dengan harga yang kembali normal, pengeluaran rumah tangga pun menjadi lebih ringan.
Hal senada disampaikan Misnati, pelaku UMKM jajanan pasar di Pamekasan. Baginya, penurunan harga telur memberikan dampak langsung terhadap biaya produksi usahanya.
Misnati mengatakan, setiap hari dirinya membeli sekitar satu kilogram telur untuk memenuhi kebutuhan pembuatan berbagai jenis jajanan yang dipasarkan.
“Setiap hari saya beli sekitar satu kilo untuk membuat jajanan pasar. Semoga meskipun Program Makan Bergizi Gratis (MBG) nanti sudah berjalan lagi, harga telur tetap stabil seperti sekarang karena sangat membantu kami sebagai pelaku UMKM,” katanya.
Sementara itu, pedagang telur di Pasar 17 Agustus, Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan, Buk Yatun, membenarkan bahwa harga jual telur kepada konsumen saat ini berada di angka Rp22.000 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut mengikuti harga kulakan terbaru yang diperolehnya dari peternak pada Senin pagi.
“Hari ini jual Rp22.000 per kilo. Tadi pagi saya baru ambil stok dari peternak dengan harga terbaru,” ungkapnya.
Buk Yatun menjelaskan, sekitar dua pekan lalu harga telur sempat melonjak tajam hingga mencapai Rp30.000 per kilogram. Kondisi tersebut terjadi ketika permintaan pasar meningkat menjelang penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dua minggu lalu, sebelum MBG libur, harga telur sangat tinggi sampai Rp30.000 per kilogram karena permintaannya juga besar,” jelasnya.
Namun setelah program tersebut dihentikan sementara, permintaan pasar mulai menurun sehingga harga telur ikut terkoreksi dan kembali berada di kisaran Rp22.000 per kilogram.
Meski demikian, Buk Yatun memperkirakan harga telur berpotensi kembali mengalami kenaikan apabila Program MBG kembali berjalan secara normal karena kebutuhan telur diperkirakan akan meningkat.
“Kalau nanti MBG sudah aktif lagi, kemungkinan harga telur bisa naik lagi karena permintaan pasti bertambah,” pungkasnya.
Turunnya harga telur di awal Juli ini menjadi angin segar bagi masyarakat dan pelaku UMKM di Pamekasan. Mereka berharap harga tetap stabil sehingga daya beli masyarakat terjaga, sementara biaya produksi usaha kecil tidak kembali terbebani oleh lonjakan harga bahan pangan.
Penulis : Fiki











