Oleh: Ahbib — Mahasiswa Universitas Madura
Ketika uang berputar begitu besar dalam industri tembakau, mengapa petani yang menanamnya justru sering menjadi pihak yang paling lemah?
Pertanyaan itu seharusnya tidak kalah keras daripada suara sebatang rokok yang sedang dibakar.
Madura sejak lama dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil tembakau. Tanahnya, petaninya, serta tradisi pertaniannya telah menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Namun hari ini, kita dihadapkan pada pertanyaan yang jauh lebih besar:
Ke mana sebenarnya arah keuntungan dari rantai industri tembakau Madura?
Beberapa hari terakhir, pemberitaan mengenai rokok ilegal—atau yang dalam bahasa masyarakat Madura kerap disebut rokok bodong—kembali mencuat.
Penindakan terhadap rokok ilegal asal Pamekasan bahkan diberitakan terjadi di luar Madura. Di tingkat lokal, muncul pula desakan agar penegakan hukum tidak hanya menyasar pelaku di lapangan, tetapi juga menelusuri produsen, pemasok, distributor, hingga pihak yang berada di balik perputaran modalnya.
Sebagai mahasiswa Universitas Madura, saya tidak ingin sekadar ikut meramaikan berita.
Saya justru ingin bertanya:
Ada apa sebenarnya dengan Madura?
Mengapa persoalan ini seolah baru menjadi perhatian besar ketika masuk ke pemberitaan media nasional?
Saya mengikuti berbagai pemberitaan di media sosial—TikTok, Facebook, Instagram, YouTube—serta pemberitaan media massa. Saya melihat bagaimana isu Madura sebagai salah satu kawasan penting dalam industri tembakau kembali ramai diperbincangkan.
Saya tidak sedang menyalahkan media.
Sebaliknya, saya mengapresiasi ketika media besar seperti Tempo berani melakukan investigasi terhadap persoalan industri rokok di Madura.
Investigasi jurnalistik diperlukan agar persoalan yang selama ini mungkin hanya menjadi pembicaraan di warung kopi dapat dibawa ke ruang publik berdasarkan data, fakta, dan kepentingan publik.
Namun, saya ingin menitipkan satu pertanyaan kepada media:
Jika sudah masuk ke Madura, jangan berhenti ketika beritanya viral.
Jangan sampai investigasi hanya menghasilkan kegaduhan selama beberapa hari, kemudian menghilang bersama pergantian isu.
Jika memang serius membongkar persoalan industri rokok di Madura, telusurilah sampai ke akar.
Siapa yang memproduksi?
Siapa yang memasok?
Siapa yang mendistribusikan?
Ke mana barang tersebut bergerak?
Siapa yang memperoleh keuntungan terbesar?
Bagaimana sebenarnya rantai ekonominya bekerja?
Dan yang paling penting:
Mengapa sistem tersebut dapat terus bertahan?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar menunjukkan siapa kurir atau pengecer yang tertangkap.
Sebab apabila penindakan hanya berhenti pada pelaku kecil, sementara pihak yang diduga mengendalikan jaringan dan memiliki kekuatan modal tidak pernah tersentuh, publik tentu berhak bertanya:
Apakah yang sedang diberantas benar-benar kejahatannya, atau hanya orang yang paling mudah ditangkap?
Ini bukan tuduhan kepada pihak tertentu.
Ini adalah pertanyaan publik yang harus dijawab secara transparan berdasarkan data, bukti, dan proses hukum.
Apalagi pemberitaan mengenai penindakan rokok ilegal di Madura menunjukkan bahwa persoalan ini bukan perkara kecil. Ketika jumlah barang yang ditemukan mencapai jutaan batang, maka kita sedang berbicara tentang sebuah rantai ekonomi yang besar dan kompleks.
Maka persoalannya tidak lagi sederhana.
Ini bukan sekadar tentang rokok.
Ini tentang ekonomi, petani, tenaga kerja, penerimaan negara, penegakan hukum, kebijakan pemerintah, dan masa depan masyarakat Madura.
Lalu, Di Mana Posisi Petani?
Di tengah besarnya perputaran industri tembakau, jangan sampai kita lupa kepada orang yang berada di bagian paling awal dalam rantai tersebut:
petani tembakau.
Petani menanam.
Petani menanggung risiko cuaca.
Petani membeli pupuk.
Petani membayar tenaga kerja.
Petani menghadapi risiko gagal panen.
Namun ketika hasil panen masuk ke dalam rantai perdagangan yang panjang, pertanyaannya adalah:
Apakah petani mendapatkan bagian yang sepadan?
Jangan sampai Madura hanya menjadi lumbung bahan baku, sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati di bagian lain dari rantai industri.
Inilah yang semestinya juga menjadi bagian dari perhatian investigasi.
Bukan hanya bertanya:
“Siapa pemilik rokok ilegal?”
Tetapi juga:
“Bagaimana struktur ekonomi tembakau Madura bekerja, dan siapa yang paling diuntungkan?”
Pertanyaan itu penting karena persoalan industri tidak pernah berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat petani, buruh, pedagang, industri, distributor, konsumen, negara, regulasi, dan kekuatan modal.
Pemerintah Juga Harus Menjawab
Sebagai mahasiswa Universitas Madura, saya juga ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah, termasuk pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kritik ini bukan dimaksudkan sebagai serangan politik.
Saya ingin menempatkannya sebagai pertanyaan akademik sekaligus pertanyaan rakyat.
Indonesia sering berbicara tentang negara hukum.
Indonesia berbicara tentang keadilan.
Indonesia berbicara tentang kesejahteraan rakyat.
Indonesia berbicara tentang pemerataan ekonomi.
Tetapi masyarakat berhak bertanya:
Apakah semua itu benar-benar terasa sampai kepada masyarakat paling bawah?
Jika pemberitaan mengenai persoalan ini muncul berkali-kali, keresahan masyarakat terus disampaikan, aparat melakukan penindakan, bahkan media melakukan investigasi, maka pertanyaan berikutnya adalah:
Setelah itu apa?
Apa perubahan konkretnya?
Jangan sampai kita hanya mengalami siklus:
ramai → viral → saling tuding → konferensi pers → penindakan → berita menghilang → persoalan kembali.
Jika pola seperti ini terus terjadi, masyarakat pada akhirnya dapat kehilangan kepercayaan.
Jangan Biarkan Kekuasaan Modal Menjadi Normal
Kita juga perlu berbicara tentang oligarki secara hati-hati.
Oligarki bukan sekadar menyebut nama seseorang yang kaya atau memiliki usaha besar. Secara sederhana, oligarki menggambarkan kondisi ketika kekuasaan ekonomi dan politik terkonsentrasi pada kelompok kecil dan memiliki kemampuan memengaruhi arah kebijakan serta distribusi sumber daya.
Pertanyaannya:
Apakah perkembangan industri di daerah sudah memberikan ruang yang adil bagi masyarakat kecil?
Atau justru kekuatan modal semakin menentukan siapa yang memiliki akses terhadap ekonomi, politik, dan kebijakan?
Pertanyaan ini harus dijawab dengan data, bukan prasangka.
Sebab jika kita ingin membangun Indonesia yang adil, maka hukum tidak boleh hanya kuat ketika berhadapan dengan masyarakat kecil, tetapi kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan kekuatan modal.
Hukum harus bekerja berdasarkan bukti dan berlaku tanpa tebang pilih.
Saya Berbicara Sebagai Mahasiswa
Saya, Ahbib, mahasiswa Universitas Madura, tidak mengklaim sebagai orang yang paling memahami persoalan ini.
Tetapi justru karena saya berada di Madura, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk bertanya.
Saya melihat tanah Madura.
Saya melihat petani.
Saya melihat anak-anak muda.
Saya melihat Gen Z.
Saya melihat generasi Alpha yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari masyarakat produktif.
Dan saya bertanya:
Warisan seperti apa yang akan kita berikan kepada mereka?
Apakah kita akan mewariskan daerah yang ekonominya hanya ramai ketika ada kasus?
Apakah kita akan mewariskan sistem yang membuat masyarakat kecil terus berada di posisi paling bawah?
Atau kita akan membangun Madura yang memiliki industri kuat, tetapi tetap memberikan ruang yang adil bagi petani, pekerja, UMKM, masyarakat kecil, dan generasi muda?
Karena persoalan hari ini bukan hanya persoalan rokok.
Ini adalah persoalan tentang bagaimana kita membangun masa depan Madura.
Media boleh membongkar.
Mahasiswa boleh mengkritik.
Masyarakat boleh bersuara.
Aparat wajib menegakkan hukum.
Pemerintah wajib membuat kebijakan.
Tetapi semuanya harus bertemu pada satu tujuan:
keadilan dan kesejahteraan masyarakat.
Maka kepada media yang sedang melakukan investigasi di Madura, saya katakan:
Jangan tanggung-tanggung.
Jika menemukan masalah, telusuri sampai ke akar.
Jika menemukan dugaan pelanggaran, sajikan bukti dan berikan ruang klarifikasi.
Jika menemukan kelemahan kebijakan, bongkar sistemnya.
Jika menemukan dugaan keterlibatan aparat, uji dengan data dan proses hukum.
Dan jika menemukan persoalan petani, jangan lupakan suara mereka.
Karena Madura bukan sekadar tempat untuk membuat berita.
Madura adalah rumah bagi jutaan manusia.
Dan rumah itu tidak boleh hanya ramai ketika sedang menjadi headline.
Pertanyaan Terakhir
Kita tidak membutuhkan perang narasi tanpa ujung.
Kita tidak membutuhkan kegaduhan yang hanya bertahan beberapa hari.
Kita membutuhkan investigasi yang menghasilkan perubahan.
Kita membutuhkan hukum yang menghasilkan keadilan.
Kita membutuhkan kebijakan yang menghasilkan kesejahteraan.
Dan kita membutuhkan keberanian untuk membongkar persoalan tanpa tebang pilih.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan:
“Siapa yang sedang viral?”
Tetapi:
“Siapa yang selama ini diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan mengapa sistem itu terus berjalan?”
Jika pertanyaan itu berani dijawab sampai tuntas, mungkin dari sanalah kita mulai menemukan jawaban atas pertanyaan yang sejak awal kita ajukan:
Ada apa dengan Madura?
Dan sebagai mahasiswa, saya memilih untuk tidak diam.











