Beranda / Pemerintahan / Kasus HIV di Pamekasan Turun, Dinkes Genjot Edukasi dan Skrining untuk Capai Three Zero 2030

Kasus HIV di Pamekasan Turun, Dinkes Genjot Edukasi dan Skrining untuk Capai Three Zero 2030

Pamekasan – Siaranmadura – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan mencatat perkembangan kasus HIV menunjukkan tren yang relatif terkendali. Kepala Dinas Kesehatan melalui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pamekasan, Avira Sulistyowati, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 89 kasus HIV, sementara tahun 2026 tercatat sebanyak 14 kasus.

“Jumlah tersebut menempatkan Kabupaten Pamekasan pada urutan ke-30 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur,” ujar Avira, Rabu (29/04/26).

Ia menjelaskan, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrome). Penularannya terjadi melalui cairan tubuh seperti darah, sperma, dan air susu ibu (ASI).

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi peningkatan kasus HIV di masyarakat, diantaranya adalah perilaku seksual berisiko, minimnya pemahaman masyarakat terkait HIV/AIDS, serta penyalahgunaan narkoba, khususnya penggunaan jarum suntik secara bergantian. Selain itu, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV) juga menjadi tantangan dalam penanganan kasus.

“Stigma ini membuat sebagian orang enggan melakukan tes atau pengobatan, sehingga berpotensi memperluas penularan,” jelasnya.

Namun demikian, sejumlah faktor juga dinilai mampu menekan angka kasus HIV. Di antaranya adalah meningkatnya akses pengobatan antiretroviral (ARV), intensifikasi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), serta peningkatan skrining dan tes HIV secara dini.

Avira menyebutkan, mayoritas kasus HIV di Pamekasan terjadi pada laki-laki dengan rentang usia produktif, yakni 25 hingga 40 tahun.

Untuk menekan penyebaran HIV, Dinkes Pamekasan telah melakukan berbagai upaya konkret. Di antaranya penguatan KIE untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus menghapus stigma terhadap ODHIV, pelaksanaan skrining bagi kelompok berisiko, serta penelusuran dan pemantauan pasien dalam menjalani pengobatan.

Selain itu, layanan tes HIV juga telah diintegrasikan dengan berbagai layanan kesehatan lain, seperti pasien infeksi menular seksual (IMS), tuberkulosis (TBC), ibu hamil, layanan kesehatan reproduksi, hingga calon pengantin.

“Kami juga memastikan pencatatan dan pelaporan dilakukan secara tepat melalui aplikasi SIHA Kementerian Kesehatan,” tambahnya.

Menurutnya, upaya edukasi juga dilakukan secara rutin, khususnya menyasar generasi muda. Kegiatan ini sering dikombinasikan dengan program lain seperti cek kesehatan gratis di pondok pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi.

Saat ini, terdapat 21 puskesmas, rumah sakit, dan beberapa klinik di Pamekasan yang melayani konseling serta tes HIV. Sementara layanan pengobatan ARV tersedia di empat fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Kowel, Puskesmas Larangan, RSUD Slamet Martodirdjo, dan RS Mohammad Noer yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

“Obat ARV disediakan oleh Kemenkes dan didistribusikan melalui Dinkes Provinsi. Jika terjadi kekurangan stok, bisa dilakukan peminjaman ke daerah lain,” jelasnya.

Dalam upaya pengendalian HIV, Dinkes juga menggandeng berbagai pihak, mulai dari fasilitas kesehatan, organisasi profesi, organisasi keagamaan, hingga lintas sektor seperti Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.

Avira menegaskan, pihaknya menargetkan tercapainya program “Three Zero HIV/AIDS 2030”, yakni nol infeksi baru, nol kematian akibat HIV, serta nol stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.

Sebagai bentuk pencegahan, Dinkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat, termasuk menjaga hubungan seksual yang aman dan setia pada pasangan, tidak menggunakan narkoba, serta rutin melakukan skrining HIV, terutama bagi kelompok berisiko.

“Yang tidak kalah penting, masyarakat harus menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV, karena dukungan sosial sangat berpengaruh pada keberhasilan pengobatan,” pungkasnya.

Penulis : Fiki

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *