Beranda / Pemerintahan / Skandal Operasi Caesar di Pamekasan Meledak, 1.900 Ibu Hamil Jalani Operasi dalam 5 Bulan

Skandal Operasi Caesar di Pamekasan Meledak, 1.900 Ibu Hamil Jalani Operasi dalam 5 Bulan

PAMEKASAN, SiaranMadura.com – Angka persalinan melalui operasi caesar (SC) di Kabupaten Pamekasan tercatat cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Data tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat, khususnya para ibu hamil, Jumat (06/03/2026).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pamekasan, sejak September 2025 hingga Januari 2026 atau dalam kurun waktu lima bulan, tercatat sekitar 1.900 ibu hamil menjalani operasi caesar, atau sekitar 11 persen dari total persalinan di wilayah tersebut.

Angka tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk terus mendorong edukasi mengenai persalinan normal, selama kondisi medis ibu memungkinkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, Saifudin, menyampaikan bahwa tingginya angka operasi caesar salah satunya disebabkan oleh riwayat operasi caesar sebelumnya atau bekas SC (BSC).

“Banyaknya operasi caesar disebabkan karena bekas SC yang mencapai sekitar 40 persen. Jika seorang ibu sudah pernah menjalani operasi caesar, maka pada kehamilan berikutnya kemungkinan besar kembali menjalani operasi,” ujar Saifudin.

Selain faktor tersebut, terdapat sejumlah kondisi medis lain yang menyebabkan ibu hamil harus menjalani operasi caesar.

“Di antaranya karena kondisi pinggul sempit, eklampsia atau hipertensi, pendarahan, ketuban pecah dini, serta faktor medis lainnya. Ada juga sebagian ibu hamil yang meminta persalinan caesar karena alasan tertentu,” jelasnya.

Menurut Saifudin, permintaan operasi caesar dari pasien juga menjadi pembahasan di internal Dinas Kesehatan, termasuk permintaan untuk menentukan tanggal persalinan.

“Kami juga membahas permintaan pasien yang ingin melahirkan melalui operasi caesar, misalnya karena ingin menentukan tanggal tertentu,” katanya.

Ke depan, Dinas Kesehatan Pamekasan akan meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi, khususnya kepada remaja putri, untuk mencegah anemia yang dapat memengaruhi proses persalinan.

“Anemia dapat menyebabkan ibu hamil tidak kuat mengejan saat persalinan normal karena kadar hemoglobin rendah,” tegas Saifudin.

Ia juga menepis tudingan adanya kerja sama antara puskesmas dengan rumah sakit rujukan terkait peningkatan jumlah operasi caesar.

“Tidak benar jika ada kerja sama seperti itu antara puskesmas dengan rumah sakit rujukan demi keuntungan tertentu,” tegasnya.

Adapun rumah sakit yang menerima rujukan operasi caesar dari puskesmas di Pamekasan selama periode September 2025 hingga Januari 2026 antara lain:

1. RS Larasati – 590 kasus

2. RS Kusuma Hospital – 451 kasus

3. RSIA Puri Bunda – sekitar 359 kasus

4. RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (RS M Noer) – sekitar 205 kasus

5. RSU Pamekasan – sekitar 192 kasus

6. RSUD Waru – sekitar 128 kasus

7. RS Mukti Husada – sekitar 83 kasus

Dinas Kesehatan Pamekasan juga terus mengimbau masyarakat agar memahami pentingnya persalinan normal apabila kondisi medis memungkinkan, guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Hal tersebut menyusul adanya kasus beberapa waktu lalu di RSIA Puri Bunda, di mana seorang ibu yang menjalani persalinan melalui operasi dilaporkan meninggal dunia.

Penulis : Jun

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *