Beranda / Pamekasan / Tiga Ayat Terakhir Bang Ali, Warisan Spiritual yang Mengiringi Berakhirnya BANI Insan Peduli

Tiga Ayat Terakhir Bang Ali, Warisan Spiritual yang Mengiringi Berakhirnya BANI Insan Peduli

Pamekasan — Siaranmadura – Suasana haru menyelimuti Ballroom Hotel Odaita, Pamekasan, Selasa (14/7) malam. Ratusan relawan BANI Insan Peduli (BIP) dari berbagai daerah di Madura larut dalam momen silaturahmi bersama pendiri yayasan, H. Ali Zainal Abidin atau yang akrab disapa Bang Ali.

Tak ada yang menyangka, rangkaian pesan yang disampaikan malam itu menjadi penutup perjalanan sebuah organisasi kemanusiaan yang telah mengabdikan diri selama hampir tiga tahun. Hanya sehari setelah pertemuan tersebut, tepat pada Rabu (15/7), Yayasan BANI Insan Peduli resmi dibubarkan.

Di hadapan para relawan, Bang Ali tidak banyak berbicara mengenai organisasi. Ia justru memilih menyampaikan tiga ayat Al-Qur’an yang sarat makna. Belakangan, ayat-ayat itu dipahami sebagai pesan terakhir sekaligus warisan spiritual bagi seluruh relawan yang pernah berjuang bersama dalam berbagai aksi sosial.

Menjaga Persatuan sebagai Pondasi Perjuangan

Bang Ali mengawali pesannya dengan membacakan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 103.

“Wa’tasimū bi hablillāhi jamī’an wa lā tafarraqū.”

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Ayat tersebut menjadi penekanan bahwa persaudaraan dan persatuan harus tetap dijaga, sekalipun organisasi menghadapi berbagai ujian dan dinamika.

Menurutnya, sebuah gerakan sosial tidak semata diukur dari besar kecilnya lembaga, tetapi dari ketulusan orang-orang yang menjalankannya. Selama keikhlasan tetap menjadi landasan, maka semangat pengabdian kepada masyarakat akan terus hidup.

Misi Kemanusiaan Tak Berakhir Bersama Sebuah Lembaga

Memasuki bagian berikutnya, Bang Ali kembali mengutip Surah Ali Imran ayat 104.

“Wal takum minkum ummatuy yad’ūna ilal-khairi wa ya’murūna bil-ma’rūfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar…”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk terus mengajak kepada kebaikan serta menebarkan manfaat bagi sesama.

Melalui pesan itu, Bang Ali menegaskan bahwa aktivitas sosial tidak boleh berhenti hanya karena sebuah organisasi telah berakhir. Kepedulian terhadap kaum dhuafa, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan harus tetap menjadi bagian dari kehidupan setiap relawan.

Baginya, pengabdian adalah panggilan hati yang tidak dibatasi oleh nama ataupun legalitas sebuah yayasan.

Memilih Menutup Lembaran dengan Keikhlasan

Sehari setelah pertemuan tersebut, melalui hasil musyawarah bersama jajaran pengurus pusat, diputuskan bahwa Yayasan BANI Insan Peduli resmi dibubarkan.

Dalam suasana penuh ketegaran, Bang Ali menyampaikan bahwa nama BANI Insan Peduli tidak lagi digunakan sebagai organisasi.

“Sudah tidak ada lagi nama Bani Insan Peduli. Biarlah cukup nama Bani Insan Peduli terukir di hati para dhuafa, anak yatim, dan semua yang pernah merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

Sebagai penutup pesannya, ia membacakan Surah Al-Baqarah ayat 274.

“Allażīna yunfiqūna amwālahum bil-laili wan-nahāri sirraw wa ‘alāniyah…”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa sedekah dan amal kebajikan dapat dilakukan secara terang-terangan maupun diam-diam, dan seluruhnya akan mendapat balasan terbaik di sisi Allah SWT.

Bang Ali pun mengajak para relawan untuk memasuki fase baru pengabdian. Jika selama ini berbagai kegiatan sosial dilakukan secara terbuka melalui layanan ambulans gratis, santunan anak yatim, hingga aksi kemanusiaan lainnya, maka ke depan kebaikan dapat terus dilanjutkan secara lebih sederhana, tanpa harus dikenal atau dipublikasikan.

Nama Boleh Berakhir, Semangat Mengabdi Tetap Hidup

Berakhirnya Yayasan BANI Insan Peduli bukan dipandang sebagai akhir dari perjalanan kemanusiaan, melainkan awal dari bentuk pengabdian yang baru.

Selama hampir tiga tahun, yayasan tersebut telah hadir melalui berbagai program sosial yang menyentuh masyarakat. Jejak pengabdian itu diyakini akan tetap hidup dalam ingatan para penerima manfaat maupun para relawan yang pernah mengabdikan tenaga dan waktunya.

Bagi Bang Ali, yang terpenting bukanlah seberapa lama sebuah organisasi berdiri ataupun seberapa besar namanya dikenal masyarakat. Yang akan dikenang adalah manfaat yang telah ditinggalkan dan keikhlasan orang-orang yang terus menebarkan kebaikan.

Meski nama BANI Insan Peduli kini telah resmi menjadi bagian dari sejarah, semangat fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, diharapkan tetap menyala di hati setiap relawan, menjadi bekal untuk terus mengabdi kepada sesama tanpa mengenal batas ruang, waktu, maupun nama lembaga.

Penulis : Fiki

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *