Pamekasan – Siaranmadura – Polemik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MI Miftahul Ulum Panagguan, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, terus memanas. Setelah menu makanan yang disajikan kepada siswa menuai kritik karena dinilai tidak layak dan jauh dari standar gizi yang diharapkan, kini muncul dugaan intimidasi terhadap salah satu guru di lembaga tersebut.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa seorang guru penerima manfaat program MBG diduga mendapatkan tekanan hingga diminta membuat video klarifikasi setelah menu makanan yang disajikan menjadi sorotan publik.
Menanggapi hal tersebut, aktivis Lingkar Melati Bersatu (LMB), Zainal Erdogan, mengecam keras tindakan yang diduga dilakukan oleh pihak pengelola dapur MBG. Menurutnya, kritik yang disampaikan masyarakat maupun pihak sekolah seharusnya dijadikan bahan evaluasi, bukan justru dibalas dengan tindakan yang mengarah pada intimidasi.
“Jika benar ada guru yang mendapat ancaman atau tekanan hingga harus membuat video klarifikasi, itu sangat disayangkan. Kritik terhadap program pemerintah merupakan bagian dari pengawasan publik agar pelaksanaannya berjalan sesuai aturan dan tujuan awalnya,” ujarnya, Sabtu (20/06/26).
Zainal juga menyoroti salah satu dapur MBG yang dikelola oleh Thowilus Shidqi di wilayah Desa Pangurayan. Berdasarkan data yang diperolehnya, dapur tersebut memiliki sekitar 50 karyawan dengan jumlah penerima manfaat mencapai 2.984 siswa.
Selain itu, ia mengungkapkan sejumlah catatan terkait aspek lingkungan dan pengelolaan limbah yang perlu mendapat perhatian serius dari pihak berwenang.
Menurutnya, dapur tersebut telah memiliki izin operasional sejak 24 November 2025 dan dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Namun, terdapat beberapa komponen yang dinilai belum memenuhi standar pengelolaan limbah yang semestinya diterapkan.
“IPAL memang ada, tetapi sistem pengelolaan aerob dan anaerob belum memenuhi ketentuan. Selain itu grease trap yang seharusnya dipasang sebelum limbah masuk ke IPAL juga perlu dipastikan keberadaannya. Kemudian uji kualitas air limbah juga belum ada. Padahal itu wajib dilakukan melalui laboratorium yang terakreditasi,” tegasnya.
Zainal menilai, apabila temuan-temuan tersebut benar adanya, maka pihak pengelola dapur MBG harus segera melakukan pembenahan. Ia juga meminta agar kritik yang disampaikan masyarakat tidak dianggap sebagai serangan, melainkan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan program MBG.
Ia mendesak Satgas MBG dan Koordinator Wilayah (Korwil) MBG Kabupaten Pamekasan untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur yang menjadi sorotan.
“Saya meminta Satgas MBG dan Korwil MBG Pamekasan jangan membela pihak yang sudah jelas bermasalah. Jika ada laporan dan temuan di lapangan, lakukan pemeriksaan secara objektif dan transparan demi menjaga kualitas program MBG,” katanya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, Ketua Satgas MBG Kabupaten Pamekasan, Sukriyanto, menyatakan akan menindaklanjuti informasi dan laporan yang berkembang di masyarakat.
“Terimakasih informasinya kami akan menindaklanjuti dan melakukan pengecekan terhadap informasi yang disampaikan,” ujarnya singkat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Korwil MBG Kabupaten Pamekasan belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan SiaranMadura.com melalui media penghubung belum mendapatkan respons.
Kasus ini pun menambah daftar persoalan yang mencuat dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Pamekasan. Sejumlah kalangan berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh agar program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik tersebut benar-benar berjalan sesuai standar, transparan, dan bebas dari praktik intimidasi terhadap pihak yang menyampaikan kritik.
Penulis : Fiki











